Mark Mobius: Masalah China Mirip Dengan Kasus Suprime Amerika

Tuesday, June 25th, 2013 08:53:32

question

Pengamat dan praktisi pasar modal global Mark Mobius meyakini permasalahan yang dihadapi China saat ini memiliki skala yang sama besarnya dengan kasus gelembung subprime mortgage yang pernah terjadi di AS, yang mengakibatkan ambruknya Lehman Brothers. Kendati demikian, menurut eksekutif Franklin Templeton itu, masalah yang menyebabkan terjadinya tumpukan utang bermasalah di perbankan China itu tidak akan menyebabkan keruntuhan lembaga keuangan seperti Lehman Brothers, karena perbankan China dimiliki oleh pemerintah.

Kekhawatiran investor akan perekonomian China menjadi serius setelah terjadi kemandekan kredit (credit crunch) di China yang memicu kenaikan suku bunga pinjaman antar bank, pekan lalu. Beberapa analis menuding kemandekan pengucuran kredit itu didorong oleh pengetatan likuiditas oleh bank sentral China, ketimbang menipisnya kepercayaan antar bank.

Kecemasan investor menyulut penurunan harga saham Cihna dalam jumlah besar pada Senin (24/6). Indeks Shanghai Composite terguling 5,3 persenke titik terendah sejak awal Desember lalu. “Presepsi tentang situasi China adalah seprti halnya AS, dan benar bahwa sejumlah besar pinjaman meuju bermasalah. Namun perbankan menyembunyikan kredit bermasalahnya dengan alasan kerahasian perbankan,” ujar Mobius, di sela-sela konferensi manajer aset FundForum di Monako.

“Kita harus mempertanyakan apa konsekuensinya, apa yang akan terjadi sebagai hasilnya, dan skenarionya akan sangat, sangat berbeda di China, karena perbankan China dikontrol oleh pemerintah, sehingga tidak boleh bangkrut,” terangnya.

Akibatnya, kata Mobius, problem likuiditas yang dihadapi Bear Stearns, Merrill Lynch dan Lehman Brothers di ujung krisis 2008, tak akan terjadi di China. Mobius mengatakan, China mempunyai cadangan devisa hingga US$3 triliun yang dapat digunakan untuk merakapitalisasi bank-banknya.

Tapi tak semua orang sependapat bahwa China akan mampu melalui masalah ini. Gordon Chang , penulis “The Coming Collapse of China” berpendapat bahwa kemandekan kredit adalah masalah serius dan dapat menyebabkan “bencana kegagalan” dalam sistem perbankan dalam enam bulan mendatang. “Ini bukan melulu masalah krisis likuiditas tapi krisis utang,” ujarnya kepada CNBC.

Untitled Document


The Market Quotes Powered By Forexpros, the Forex, Futures, and Stock Markets Portal.
MORE TOP STORIES more
MOST POPULAR

  •   1902 Views

  •   1462 Views

  •   1423 Views
  • question

      1359 Views

  •   1308 Views